Minggu, 11 September 2011
Kamis, 01 September 2011
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432 H
semoga segala dosa yang pernah terbuat terhapus di hari yang fitri ini..
dan mari kita berusaha untuk tidak mengulang segala kesalahan yang pernah kita lakukan
semoga puasa kita di terima allah SWT amiiiiin.... amiin .... ya robbal alamin..
Senin, 13 Juni 2011
Ku Pinang Engkau Dengan Terpaksa
Oleh : Yoli Hemdi
Tiada bahan obrolan yang paling menarik para bujang selain perempuan. Tetapi kebanyakan bicara, justru memuntahkan isi perut dan memamerkan belang masing-masing. Lepas malam obrolan makin kaya olok-oloknya, saling jodoh-menjodohkan dengan nada mengejek.
“Indra kamu cocok deh sama Ria. Dia bendahara dan kamu ketua pas banget!” celoteh seorang teman.
“Apa? Iiih…. Amit-amit. Dari pada sama dia lebih baik tidak menikah,” Indra tergidik jijik.
“Ria itu durmita.”
“Apaan tuh?”
“Drum minyak tanah!” ejek Indra. “ Ria cewek gendut, hitam dan judes. Hiii…. Ngeri!!”
Ha.. ha.. ha..
Indra memang benci seratus persen dengan bendaharanya. Kalaupun mereka pernah berkomunikasi, itu karena terpaksa. Dan hanya bicara sedikit mungkin. Sebab lama bicara dengan Ria akan keluar kritik bahkan judesnya. Apalagi luka hati belum sembuh, Indra pernah di kritik Ria di depan umum. Menyakitkan!
“Gadis macam apa, judes begitu,” Kecam Indra. Selanjutnya keluarlah banjir kritik sadis untuk Ria. Tentu saja hanya di depan teman-teman nongkrongnya. Mana berani dihadapan si singa betina.
Waktu terus bergulir, malam semakin tua. Obrolan olok-olok tetap berlanjut. Giliran Toni yang tinggi dijodohkan dengan Marni yang pendek. Hendra yang krempeng dengan Mia yang gembrot. Maka meledaklah amarah Toni juga Hendra. Sementara yang lain tertawa berderai-derai.
“Mila memang yeng terbaik,” ujar Indra pada malam lain.
“Shalihah, cantik, pintar dan lembut. Aku akan segera tamat kuliah, cari kerja dan terus langsung melamarnya…. Amin…”
Tidak ada yang ikut mengamini. Teman-teman yang lain justru mengkal setengah mati. Karena mereka juga punya rasa terpendam pada bunga yang sama. Ada-ada saja cinta!
Bukan Indra namanya jika tidak Lucky player. Dia segera menamatkan kuliah dengan prediket cum lau de. Karena merasa diri berkualitas, dia ikut seleksi bekerja disebuah perusahaan besar, investornya dari luar negeri.
Usai mengikuti tes, Indra mengikrarkan nazar.
“Jika aku lulus, pasti langsung menikah.” Sebenarnya sumpah itu diucapkan dengan hati ragu. Tipis sekali peluang. Soalnya harus bersaing dengan master jebolan luar negeri.
“Tapi biarlah yang penting bisa bikin sensasi,” hiburnya. Dalam sekejap sumpah Palapa Indra menjadi Headline, terutama dikalangan mehasiswi.
“Siapakah yang beruntung kelak dipersunting pemuda mirip Andy Lau itu?”
Dag… dig… dug… banyak hati berdebar-debar.
Agar situasi makin mencekam, Indra menemui Ustadz Frhan. Dia umbar nazar, kalau lulus siap nikah segera. Ustadz diminta menjadi mediator mencarikan calon idaman.
“Mengapa harus ke ustadz?”
Sebab Ustadz terpercaya mencarikan terbaik agamanya,” Indra menegaskan
“Siapapun asal ustadz yang memilihkan pastilah itu terbaik bagi saya!” ujarnya heroik.
Ustadz Farhan mengangguk-anggukkan kepala kagum.
Senyum Indra mekar menghembang. Dia memang jago diplomasi. Siapapun tahu kalau Mila sangat dekat dengan Istri Ustadz Farhan. Pucuk dicinta ulampun tiba, cihuii..!
“Benar-benar taktik yang jitu” pujinya pada diri sendiri.
Hari yang dinanti sudah tiba. Kejadian benar-benar nyata dan Indra lulus di PT. Texudo. Dia menyingkirkan pesaing lain yang mengusung Ijazah luar negeri. Kesuksesan ini menaikkan pamor dan ratingnya sebagai pemuda favorit yang paling pantas diperebutkan gadis-gadis.
Rasa percaya dirinya membumbung tinggi. Tanpa disadari, Indra berjalan mulai membusungkan dada. Untunglah dadanya tergolong bidang, sehingga lumayan bagus dipandang. Indra Lesmana menjadi buah bibir. Bahan diskusi paling laris mulai dari café-café, masjid kampus, sampai kos-kosan. Indra merasa melayang diudara. Terbang.
Segera ditemuinya Ustadz Farhan. Kuliah beres, kerja lulus, maka nikah sudah saatnya! Yess…!
“Pokoknya apa yang terbaikpilihan Ustadz, itulah yang terbaik bagi saya!” Indra kembali menekankan.
“Jangan begitu! Sebutlah beberapa criteria?!”
Nah, inilah yang dinanti0nanti, dengan cepat meluncur kriteria yang sudah menjurus pada seseorang.
“Gadis itu haruslah Shalihah, pintar, cekatan, aktivis kampus, asalnya dari kota A, kuliah di fakultas B, dan jurusa C, serta dekat dengan istri ustadz.”
“Baiklah, tunggu kabarnya seminggu lagi.”
“Jangan lama-lama ustadz. Sampaikan padanya tak usah pakai ta’aruf atau perkenalan, langsung nikah segera! Saya sudah yakin dengan pilihan Ustadz.”
Betapa indahnya sore itu. Keremangan senja membias di lubuk hati. Indra pulang sambil bersiul-siul kecil. Di benaknya terbayang Mila yang sedang tersipu-sipu.
“Amboi… amboi…, betapa beruntungnya dinda mendapatkan suami berkualitas seperti kanda,” lirih Indra romantis.
Pertemuan keramat itu dirancang sangat matang. Indra mandi, bersih-bersih, lebih lama dari biasanya. Paka shower dan shampo. Baju baru disemprot pewangi dari jazirah arab. Dia benar-benar siap bertemu calon istri.
Sekuat apapun mental laiki-laki, tetap saja berdebar-debar. Lama menunggu, akhirnya istri ustadz farhan membimbing seseorang. Gadis itu melangkah malu-malu dibelakang Mbak Tari.
“Rasanya saya kenal jilbab biru itu?” batin Indra.
Dan … jreng …! Nampak jelas siapa yang tersipu-sipu. Ternyata… ternyata… ternyata… dia adalah…
“Inilah calon istrimu,” ujar Ustadz berwibawa.
“huuuuaaaaaaa… Ria Durmita!?”
Indra tak kuasa berkata kerongkongannya terasa kelat. Kali pertama seumur hidup matanya berkungan-kunang. Kok bisa? Ya Allah…!
@@@
Air ludah tak mungkin dijilat kembali. Lidah berkata, pundak memikul, segaala sesuatu pasti ada hikmahnya. Dengan Ksatria Indra resmi melamar Ria. Sejak itu indra tak pernah lagi bersua teman-teman nongkrongnya. Alasannya sibuk menyiapkan pernikahan. Padahal……!?
Sejak itu pula kelima rekan ngobrol lepas malam mengadakan acara taubat nasuha. Mereka minta ampu karena pernah mencemooh muslimah. Meski itu hanya gurauan semata, tapi gurauan kini makan tuan. Cukuplah malapetaka itu menimpa Indra saja. Mereka benar-benar bertaubat, bahkan pakai menangis segala.
Mereka berkunjung ke rumah ustadz Farhan, sengaja mengorek-ngorek info. Ternyata semula istri ustadz menawarkan pada Mila. Sayang gadis ayu itu menolak karena belum siap nikah mendadak. Ada kewajiban lain yang belum diselesaikannya. Lalu beralihlah pada Ria yang juga sangat dekat dengan istri Ustadz. Muslimah yang aktivis kampus, pintar, dan cekatan. Asalnya juga dari kota A, kuliah di fakultas B, dan jurusan C.
“Cocok dengan kriteria Indra, dan Ria sangat setuju!” Ujar Ustadz Farhan bersemangat. Info terakhir ini sengaja tak disampaikan pada indra. Mereka simpan rapat-rapat sebagai top secret. Cukuplah bahan evaluasi bagi para penggila ngobrol lepas malam.
Sebulan kemudian pernikahan digelar meriah. Kelima sahabat satu per satu memeluk pengantin pria. Mereka membisikkan nasehat dan indra membalas dengan senyum tegar.
“Tabahkan hatimu!”
“Selalu ingat Allah!”
“Mintalah Pertolongan tuhan!”
“Kuatkan dirimu!”
“Perbanyaklah sabar!”
@@@
Berbulan-bulan kemudian panggilan kerja tak kunjung datang dan tak akan pernah datang lagi. PT. Texudo mendadak bangkrut, bahkan bosnya gantung diri di ruang kerja. Indra terkapar. Dia merasa buka lucky player lagi. Inilah fase terpahit dalam sejarah hidupnya. Pekerjaan susah dicari, ijazah tak berdaya apa-apa.
Pada saat demikian kritis nampaklah kecekatan Ria. Dia melobi pamannya yang juragan minyak. Keluarga pemula itu berbisnis minyak eceran. Halaman depan kotrakan disulap tempat parkir drum-drum.
Ria ternyata punya bakat bisnis, eceran minyaknya laris manis. Ekonomi keluarga mulai sejahtera. Indra ikut senang, walau sering perih tiap kali melihat istrinya berdekatan dengan drum.
“Duh… Durmita…!”
Istrinya tetap saja gemuk hitam. Tapi sudah Nampak manis di pandang mata. Apalagi Ria mulai berdandan dan tak pernah lagi ikut panas-panas demonstrasi. Satu hal terpenting tutur katanya juga mulai diperhalus. Tidak ada lagi kata-kata tegas seperti di organisasi kampus dulu. Indra juga makin senang, ternyata istrinya hebat sekali. Hampir tiap tahun melahirkan anak. Pernikahan mengajarkan banyak makna tentang kehidupan.
@@@
Minggu, 22 Mei 2011
Kumpulan Tenses Beserta Contonya
A. PRESENT TENSE ( waktu sekarang )
1. Simple Present Tense ( waktu hari ini sederhana )
Rumus : A : S + Tobe ( am, is, are )
B : S + Verb 1 ( s/es )
Kalimat Nominal :
(+) S + Tobe
She is very happy
(-) S + Tobe + Not
I am not lazy
(?) Tobe + S
Is he diligent student ?
Kalimat Verbal :
(+) S + V1 + (s/es)
The sun rises in the east and sets in the west
(-) S + ( do/does ) + Not + V1
I do not eat the bread
(?) do/does + S + V1
Does he go to Surakarta ?
2. Present Continuous Tense ( waktu sekarang sedang berlangsung )
Rumus : S + tobe (Is, am, are) + V1 (ing) + …
(+) S + Tobe + V1 (ing)
I am writing the letter now
(-) S + Tobe + Not + V1 (ing)
She is not reading the magazine
(?) Tobe + S + V1 (ing)
Is he washing his clothes ?
3. Present Perfect Tense ( Waktu semu )
Rumus : A : S + have/has + been
B : S + have/has + V3
Kalimat Nominal
(+) S + have/has + been
Rina has been there since morning
(-) S + have/has + Not + been
She has not been lazy because he here
(?) have/has + S + been
Have they been late ?
Kalimat Verbal
(+) S + have/has + V3
He has eaten his breakfast
(-) S + have/has + Not + V3
I have not seen you for weeks
(?) Have/has + S + V3
Have they played football in the yard ?
4. Present Perfect Continuous Tense ( waktu berlangsung sempurna sekarang )
Rumus : S + have + been + V1 (ing)
(+) S + have + been + V1 (ing)
She has been practicing English for year
(-) S + have + not + been + V1 (ing)
We have not been waiting for him for two hours
(?) have + S + been + V1 (ing)
Have we been standing here since seven o’clock ?
B. PAST TENSE ( Waktu Lampau )
5. Simple Past Tense (Waktu Lampau Sederhana)
Rumus : A : S + Tobe + Was/Were
B : S + V2
Kalimat nominal :
(+) S + Tobe (was/were)
They were happy last week
(-) S + tobe (was.were) + Not
We were not here yesterday
(?) Tobe (was/were) + S
Were you a student ?
Kalimat Verbal :
(+) S + V2
She went to malang a week ago
(-) S + did + not + V1
Rino did not cut the grass now
(?) Did + S + V1
Did they visit to Monas yesterday ?
6. Past Continuous Tense ( waktu llampau sedang berlansung )
Rumus : S + was/were + V1 (ing)
(+) S + Tobe + V1 (ing)
My brother was sleeping soundly
(-) S + tobe + not + V1 (ing)
I was not studying
(?) Tobe + S + V1 (ing)
Was she cooking in the kitchen ?
7. Past Perfect Tense ( waktu lampau sempurna )
Rumus : A : S + had + been
B : S + had V3
Kalimat Nominal :
(+) S + had + been
He had been a soldier
(-) S + had + not + been
Dina had not been a student now
(?) had + S + been
Had I been to smile tomorrow
Kalimat Verbal :
(+) S + had + V3
I had called my friend
(-) S + had + not + V3
Dian had not driven his car
(?) Had + S + V3
Had nana talked with desi
8. Past Perfect Continuous Tense ( waktu berlangsung sempurna lampau )
Rumus : S + had + been + V1 (ing)
(+) S + had + been + V1 (ing)
We had been studying the homework
(-) S + had + not + been + V1 (ing)
They had not playing in the park
(?) Had + S + been + V1 (ing)
Had I been reading the book ?
C. FUTURE TENSE ( Waktu Akan Datang )
9. Simple Future Tense ( waktu akan datang sederhana )
Rumus : A : S + Shall/will + be
B : S + Shall/will + V1
Kalimat Nominal :
(+) S + Shall/will + be
They will be happy this day
(-) S + Shall/will + Not + be
He will not be here this month
(?) Shall/will + S + be
Will you be hungry now ?
Kalimat verbal :
(+) S + shall/will + V1
We shall visit to parang tritis this week
(-) S + Shall/will + Not + V1
They will not go in holiday
(?) Shall/will + S + V1
Will Tika have a nice dream this night ?
10. Future Continuous Tense ( waktu berlangsung akan datang )
Rumus : S + Shall/will + be + V1 (ing)
(+) S + Shall/will + be + V1 (ing)
We shall be waiting for him to go back school
(-) S + shall/will + not + be V1 (ing)
Keyla will not be doing something this day
(?) Shall/will + S + be + V1 (ing)
Will she be helping me tomorrow ?
11. Future Perfect Tense ( waktu sempurna akan datang )
Rumus : A : S + Shall/will + have + been
B : S + Shall/will + have + V3
Kalimat Nominal
(+) S + shall/will + have + been
I will have been to pass
(-) S + Shall/will + not + have + been
Dita shall not have been angry
(?) shall/will + S + have + been
Shall Yuni have been beautifull girl ?
Kalimat Verbal
(+) S + shall/will + have + V3
I shall have got home by the dinner time
(-) S + shall/will + not + have + V3
We shall not have develop our theory by next year
(?) Shall/will + S + have + V3
Will they have finished their work at the end of the week ?
12. Future Perfect Continuous Tense ( waktu berlangsung sempurna akan datang )
Rumus : S + Shall.will + have + been + V1 (ing)
(+) S + Shall/will + have + been + V1 (ing)
Dara will have been attending the English course next week
(-) S + Shall/will + not + Have + been + V1 (ing)
They will not have been composing for a year by the and of this year
(?) Shall/will + S + Have + been + V1 (ing)
Shall we have been studying for exam next year ?
D. PAST FUTURE TENSE ( waktu akan datang di masa lampau )
13. Past Future Tense ( waktu akan datang di masa lampau )
Rumus : A : S + Should/would + be
B : S + Should/would + V1
Kalimat Nominal :
(+) S + should/would + be
Havis would be exam next Sunday
(-) S + sould/would + not + be
We should not be can if we to surrender
(?) Should/would + S +be
Would Dani be ascend the train
Kalimat Verbal
(+) S + should/would + V1
Johan would send a letter the day before, if riko did not come
(-) S + sould/would + not + V1
Dilla would not visit in my home this week
(?) Should/would + S + V1
Should we go to Makassar the next day
14. Past Future Continuous Tense ( waktu akan sedang terjadi diwaktu lampau )
Rumus : S + should/would + be + V1 (ing)
(+) S + should/would + be + V1 (ing)
I should be beginning an examination at eight o’clock
(-) S + should/would + not + be + V1 (ing)
Luna should not be meeting with rahel this month
(?) should/would + S + be + V1 (ing)
Should Resty be climbing that tree now ?
15. Past Future Present Tense ( waktu akan sudah selesai diwaktu lampau )
Rumus : A : S + should/would + have + been
B : S + should/would + have + V3
Kalimat Nominal :
(+) S + should/would + have + been
I would have been very happy
(-) S + should/would + not + have + been
They should not have been late
(?) should/would + S + not + have + been
Should Yoga have been diligent student ?
Kalimat Verbal
(+) S + should/would + have + V3
Sandra would have worked if she had graduated
(-) S + should/would + not + have + V3
Mr. Tono would not have build the house by next year
(?) Should.would + S + have + V3
Should you have finished the task tomorrow ?
16. Past Future Perfect Continuous Tense ( waktu akan sudah sedang terjadi di waktu lampau )
Rumus : S + Should/would + Have + been + V1 (ing)
(+) S + Should/would + Have + been + V1 (ing)
I should have been adjuring you for come here next time
(-) S + Should/would + not + Have + been + V1 (ing)
Karin Would not have been teaching English next year
(?) Should/would + S + Have + been + V1 (ing)
Would they have been waiting for three hours, bay last Sunday ?
Langganan:
Postingan (Atom)
